Melihat Keindahan Sumba Timur Dari Sudut Pandang

wisata terbaik sumba

 

Menapaki Surga Tersembunyi Dari Timur Indonesia

 

Ketika pesawat berbadan kecil itu melayang-layang di atas selat Sumba, sebelum mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, Nusa Tenggara Timur, yang tampak dari jendela pesawat adalah lanskap pantai: sebentuk komposisi warna hijau, segurat panjang riak warna putih dan hamparan warna biru laut.

Panorama itu sebanding dengan produk fantasi pelukis Srihadi Sudarsono, salah satu maestro Indonesia yang abadi dalam impresi pencinta seni rupa.

Lukisan-lukisan cakrawala itu diciptakan dengan hanya tiga warna dasar, hijau tua, putih dan biru. Tak ada benda figuratif di keluasan alam hijau-putih-biru itu. Tapi dahsyatnya penciptaan semesta segera terasa di sana.

Tentu, sudut pandang menatap bibir pantai Waingapu, sebagai pertemuan darat-laut dari udara itu, bolehlah dianggap sebagai tahap pengantar sebelum wisatawan benar-benar memasuki fantasi sang maestro dengan sudut pandang yang sepadan.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Berkejaran Dengan Kuda Sumba Di Savana (sumber: www.indonesiakaya.com)

Sumba Timur menyuguhkan banyak pemandangan cakrawala. Untuk sampai ke hotel di kawasan pantai, hanya perlu 10 menit atau sekitar 3 km dari lapangan terbang sederhana, yang hawa segarnya menganugerahi turis urban dengan zat asam yang melapangkan dada.

Ada belasan panorama pantai yang bisa dinikmati wisatawan di bumi Sumba Timur yang beribu kota di Waingapu itu. Pantai Tarimbang, Purukambera, Walakiri, Watu Parunu, Kiriwei, Pindu Hurani adalah beberapa kawasan wisata yang bisa menjadi sihir yang membuat wisatawan terpukau oleh keelokan alam Sumba Timur.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bersantai di Pinggir Pantai Tarimbang (sumber: www.indonesiakaya.com)

Di Pantai Walakiri, sekitar 24 kilometer dari Waingapu, wisatawan dapat menyaksikan sepenggal pesona pantai yang berbatasan langsung dengan sabana tempat kuda, kambing, lembu merumput, tak jauh dari pondok-pondok jerami tempat pemasak garam rakyat bekerja.

Di ambang senja, ketika matahari hendak terbenam, siluet cahaya kemerahan itu menciptakan padang rumput dengan beberapa pohon di sana-sini penaka sebuah Taman Eden tempat sepasang manusia pertama berinteraksi dalam imajinasi pembaca atas teks Kitab Kejadian.

alidesta4

Mampir Sejenak di Kampung Ratenggaro (sumber: Jelajah Sumba)

Sebetulnya tempat-tempat wisata di Sumba Timur yang belum tereksplorasi dan terbangun oleh Dinas Pariwisata Sumba Timur adalah situs-situs gua-gua yang dibuat oleh pasukan pendudukan Jepang.

Ada puluhan gua-gua Jepang yang tersebar di beberapa kawasan di Sumba Timur seperti di Mauliru, Kalumbang, Padadita dan Kampung Sabu.

Tampaknya Jepang dalam tiga tahun menduduki nusantara dalam pertarungan melawan Sekutu, salah satu strategi perangnya adalah menggali lubang-lubang perlindungan, yang dibentuk dalam lorong-lorong sepanjang kurang lebih lima sampai 10 meter dengan arah berkelok, setinggi satu setengah meter dan selebar kurang lebih satu setengah meter pula.

Penduduk setempat menyebut gua-gua buatan itu sebagai lubang jepang, yang terdapat di kawasan baik perbukitan maupun pantai.

Dana minim Kepala Dinas Pariwisata Sumba Timur Maramba Meha mengatakan minimnya dana pemerintah membuat rencana usaha membangun situs-situs bersejarah itu tak pernah terwujud.

Akibatnya, sebagian lubang-lubang tempat pasukan Jepang menghindari serangan udara Sekutu dalam Perang Asia Timur itu menjadi tak terawat, ditumbuhi semak belukar dan jadi liang sembunyi hewan melata.

Bahkan beberapa di antaranya digunakan penduduk setempat untuk memasak. Bekas kayu-kayu bakar yang digunakan untuk memasak terlihat di sana.

Maramba mengatakan, jika situs-situs itu dijadikan lokasi atau situs wisata bersejarah dan dipromosikan ke Jepang, besar kemungkinan akan ada turis mancanegara dari negeri sakura itu berkunjung.

Apalagi jika pembangunan situs itu dilengkapi dengan penerbitan buku, gambar dan video yang mengisahkan sejarah terbentuknya gua-gua peninggalan serdadu Jepang iu.

Di tahun 70-an, konon pernah datang serombongan turis dari Jepang ke Sumba Timur untuk mengunjungi gua-gua itu namun sejak itu tak pernah berlanjut.

Desa Praingkarela dengan air terjun Laputi. Wisatawan juga dapat menemukan alternatifnya pada air terjun Hirumanu, juga air terjun Gunung Meja yang menawan.

alidesta5

Menikmati Keindahan Alam Air Terjun Tanggedu (sumber: kesiniaja.com)

Sebagai kawasan yang sebagian besar wilayahnya berupa sabana, Sumba juga dikenal sebagai sentra peternak kuda. Itu sebabnya, kawasan ini punya sejarah panjang mengenai pacuan kuda. Di sinilah surga bagi wisatawan penikmat lomba pacuan kuda.

Tentu bukan pacuan kuda modern dengan joki profesional yang mengenakan perlengkapan pengaman seperti helm, sepatu dengan pakaian khusus. Di sini joki pacuan kuda adalah bocah-bocah yang masih dududk di bangku sekolah dasar, yang memacu kuda di lintasan lomba tanpa helm dan tanpa pelana kuda, dengan kecepatan pacu hingga 60 km per jam.

Aroma tradisi kerakyatan yang menjadi jiwa Sumba inilah yang membuat para sutradara terkemuka mulai dari Garin Nugroho, Riri Riza hingga produser film-film terlaris Mira Lesmana beberapa kali menjadikan tanah Sumba sebagai latar film-film mereka.

alidesta6

Menyaksikan Pacuan Kuda Khas Sumba (sumber: SkyscraperCity)

Turis pencinta kuliner hasil laut dapat melampiaskan selera makan mereka di malam hari dengan mengunjungi kawasan dermaga lama tempat ikan kakap, baronang, krapu dan berbagai jenis ikan laut lainnya diolah menjadi menu santapan yang lezat dan relatif murah dibandingkan dengan standar ibukota negara, Jakarta. seperti dikutip dari antara

Sumba Timur juga kaya akan objek wisata beraroma spiritual dengan tradisi penguburan para pengikut aliran kepercayaan Marapu, yang mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya.

Dalam tradisi Marapu, jasad pemeluknya dikubur lewat arak-arakan yang melibatkan ratusan orang untuk menyeret batu kubur tak kurang dari dua ton beratnya menuju liang kubur di perbukitan.

Tak sepetti umumnya jasad pengiman Kristen atau Islam yang dikubur dalam posisi rebah, jasad pengiman Marapu dikubur dalam posisi duduk.

Namun, prosesi penguburan Marapu itu semakin langka dan Dinas Pariwisata Sumba Timur pun tak mengagendakan momen unik itu dalam kalender wisata tahunan merek.

 

kamu bisa melihat artikel aslinya di: arah.com

Advertisements

3 thoughts on “Melihat Keindahan Sumba Timur Dari Sudut Pandang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s