Pendakian Gunung Pangrango Dengan Segala Macam Problema

gunung gede dari atas puncak pangrango

Menyusuri Jejak Soe Hok Gie di Mandalawangi

 

Sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini, rasanya kangen pengin nulis dan say hai disini, namun apalah daya, sekarang ini saya sudah cukup sibuk dengan kehidupan dunia nyata, namun selain daripada itu disini saya juga mengurusi banyak blog lain selain blog ini, yang tentunya blog2 saya tersebut masih berkaitan satu sama lain, yaitu masih membahas seputar dunia petualangan atau adventure.

Diwaktu yang singkat ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan saya bersama kawan saya dalam melakukan pendakian ke Gunung Pangrango beberapa bulan yang lalu atau lebih tepatnya pada bulan Mei 2016.

Kenapa saya baru menulis dan mempostingnya sekarang? Ya seperti yang saya bilang tadi, kalau saat ini saya masih sibuk mengurus banyak hal yang mengakibatkan salah-satu dari rutinitas saya harus saya korbankan demi terciptanya perdamaian dunia yang seadil-adilnya ( ngomong apa si? 🙂 )

Tanpa panjang lebar langsung saja saya mulai pendakian kali ini saya memilih ke salah-satu gunung yang terletak di Jawa Barat, gunung ini sudah sangat popular di kalangan pendaki Indonesia, karena letaknya cukup dekat dengan ibukota maka dari itu gunung ini sering dijadikan sebagai tempat pelarian mereka dari hingar bingarnya suasana kota.

Gunung Pangrango, gunung ini masuk kedalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang melingkupi tiga kabupaten sekaligus, yaitu Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Posisinya sangat strategis, karena berada di tengah-tengah kota Besar di Jawa Barat, maka tidak salah memang jika Gunung ini sering disebut sebagai Gunung Sejuta Umat.

Untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede maupun Gunung Pangrango ini kita diharuskan untuk melakukan pendaftaran online di website resmi TNGGP yang beralamatkan di http://booking.gedepangrango.org/ minimal seminggu sebelum pendakian. Di website tersebut kita di haruskan untuk mengisi biodata angota siapa saja yang nantinya akan melakukan pendakian ke gunung gede maupun gunung pangrango, dengan biaya retribusi yang di tetapkan pada tahun 2016 ini sebesar Rp 27.500 per satu orang pendaki.

Rasanya cukup mahal memang jika di bandingkan dengan retribusi pendakian di gunung2 lain seperti di Jawa Tengah ataupun Jawa Timur, yang rata2 hanya berkisar lima ribu sampai tigapuluh ribu rupiah. Ditambah lagi dengan mekanisme pendaftarannya yang mengandalkan sistem online yang dirasa masih cukup merepotkan.

Mungkin bagi sebagian pendaki yang tinggal di kota2 besar sudah terbiasa dengan hal2 semacam itu, namun tidak demikian yang dirasakan pendaki lain yang tinggal di desa, mereka harus melakukan pendaftaran dan melakukan pembayaran melalui mesin tunai yang notabene biasanya berada di luar kawasan mereka, belum lagi saat melakukan validasi pendaftaran yang cukup membuang2 waktu karena harus bergelut dengan dunia maya yang lagi2 tidak semua orang paham akan hal itu.

Tapi ya sudahlah, yang terpenting sekarang bagaimana caranya kita dan semua komponen masyarakat khususnya para pendaki dan pengelola Taman Nasional, untuk sama2 menjaga dan melesatarikan alam dengan caranya masing2. (quote yang sebenarnya tidak perlu 🙂 )

Balik lagi ke cerita pendakian saya, kami ( saya bersama kawan saya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena jumlahnya cukup banyak, yaitu 3 orang 🙂 ) memulai pendakian pada hari kamis tgl 12 Mei 2016 sekitar pukul 9 pagi. Sebelumnya perlengkapan setandar pendakian telah kami siapkan di malam sebelum keberangkatan. ( kaya mau haji aja pake acara keberangkatan 🙂 ).

Persiapan Pendakian di Depan Kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Basecamp TNGGP

Setelah semua di rasa cukup lengkap dan siap, pendakian kami mulai dengan membaca basmalah bersama2 dan setelah itu doa makan ( karena sebelum berangkat kami makan dulu di Basecamp 🙂 ) maksudnya langsung memulai trekking melalui jalur Cibodas, karena memang jalur untuk pendakian ke Gunung Pangrango di sarankan melalui jalur ini, karena jalur inilah yang terdekat untuk sampai ke Gunung Pangrango.

Landmark Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

LandMark TNGGP

Jalur pertama yang kami lalui masih seperti biasanya, yaitu jalan setapak dengan bebatuan yang sudah di tumpuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan jalanan yang cukup nyaman untuk di lalui, mungkin jalur Cibodas ini adalah salah satu jalur pendakian yang cukup rapi disbanding dengan jalur lain di Gunung2 yang ada di Indonesia, karena selain untuk pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango, jalur ini juga di gunakan sebagai jalur utama memasuki kawasan Curug Cibereum dan wisata Air Panas yang notabene kedua tempat tersebut adalah tempat wisata keluarga, maka dari jalur disini dibuat sebagus dan senyaman mungkin.

Jembatan Rawa Trek Gunung Gede Pangrango Via Cibodas

jembatan rawa

Mungkin untuk pendaki yang suka dengan ke Alamian hutan tidak begitu suka dengan jalur semacam ini, karena memang tidak ada sensasi petualangannya sama sekali, ya, seperti layaknya jalanan gang komplek perumahan yang ditumbuhi pohon2 besar, jadi tidak begitu memacu adrenalin dan tidak memerlukan teknik khusus untuk melakukannya.

Wisata Air Panas Via Jalur Cibodas

Air panas

 

Target pendakian hari pertama kami ini adalah Kandang Badak, yaitu sebuah Camp area yang berada di tengah2 antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango, tempat ini memang disediakan khusus untuk para pendaki yang akan melakukan pendakian ke Gunung Gede Maupun Gunung Pangrango untuk beristirahat.

Air Terjun Yang Kita Temui Saat Pendakian Gunung Pangrango Via Cibodas

Air Terjun

Kami sampai di Camp area ini sekitar pukul 4 sore, kurang lebih 7 jam perjalanan dari awal pendakian kami tadi pagi. Memang cukup lumayan lama jika dibandingkan dengan pendaki lain yang sudah expert yang mungkin hanya memerlukan waktu 5 – 6 jam untuk sampai ke Kandang Badak dari Basecamp pendakian awal.

Kandang Badak Yang Biasanya Ramai Kali ini Sepi Dari Rutinitas Para Pendaki

Pos Kandang Badak

Ya, itulah kita, selalu mendaki dengan penuh perasaan alias santai saja selama cuaca masih bersahabat. Selain daripada itu sebenarnya kita2 ini baru mulai mendaki lagi setelah vakum di dunia pendakian lebih dari 6 bulan, makannya itu kami melakukan pendakian kali ini dengan penuh perasaan.

Setelah kami sampai di Kandang Badak, kami langsung saja membuat tempat kemah sementara hingga esok pagi kami mulai melakukan pendakian lagi ke Puncak Pangrango. Pertanyaannya, kenapa tidak sekalian langsung sampai ke puncak di hari yang sama? Jawabanya adalah faktor cuaca yang pada saat itu sudah mulai hujan sangat deras, dan kondisi fisik kami yang memang belum bisa beradaptasi dengan kondisi alam yang cukup ekstrim, maka dari itu kami memutuskan untuk sementara waktu bermalam dulu di Kandang Badank dan selanjutnya esok pagi kami akan lanjutkan perjalanan kami menuju puncak.

Setelah bermalam di Kandang Badak dengan kondisi yang cukup ekstim akibat hujan deras yang tak kunjung reda di malam tadi, akhirnya pagipun tiba, matahari mulai muncul dan siap menemani perjalanan kami selanjutnya.

Trek Gunung Pangrango Yang Cukup Menantang

trek pangrango yang cukup rimba

Kurang lebih sekitar pukul 6 pagi kami baru memulai pendakian menuju Puncak Pangrango. Sebagai catatan disini, dari ke 3 orang yang melakukan pendakian bersama saya kali ini tidak satu orangpun yang sebelumnya pernah mendaki ke Gunung Pangrango, bahkan saya sendiripun juga belum 😀 kami hanya mengandalkan pesan dan saran dari pendaki yang kami temui di perjalanan kemarin, bahwa untuk trek di Gunung Pangrango itu hanya di tandai dengan pita yang di ikatkan ke pohon2 kecil. Dari situlah kami mulai menggunakan insting kami ( ko kaya hewan ya pake insting, feeling kali 🙂 ) untuk mencari2, dan meraba2 jalan manakah yang benar dan mana yang salah.

View Gunung Gede Dari Trek Gunung Pangrango

View G gede dari Trek Pangrango

Berkat insting kami yang cukup tajam dan semangat kami yang lumayan membara, walaupun dengan perjuangan yang cukup melelahkan karena kita dihadapkan dengan jalur pendakian Gunung Pangrango yang cukup ekstrim dan benar2 menguji adrenalin, akhirnya kami bisa sampai juga di Puncak Gunung Pangrango sekitar pukul 9 pagi, atau perlu waktu 3 jam perjalanan dari Camp Area Kandang Badak.

Puncak Gunung Pangrango Dengan View Kawah Gunung Gede

gunung gede dari atas puncak pangrango

Setelah kami sampai, kami tidak lupa untuk bersyukur terlebih dahulu, karena sesungguhnya kami melakukan pendakian di Gunung dan menjelajah di alam liar itu semata2 hanya untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan cara mensyukuri ciptaannya, selain daripada itu pastinya untuk terapi relaksasi setelah berbulan2 didera kecemasan dalam hingar-bingarnya kehidupan, dan yang cukup umum pastinya sih untuk bisa berfoto di atas ketinggian dengan Background yang sangat Amazing.

Lembah Mandalawangi Dengan Ornamen Sarung Yang menghiasi ( entah sarung siapa )

Mandalawangi dan jemuran entah punya siapa

Whatever apapun alasan kalian mendaki gunung ataupun menjelajah alam yang terpenting disini ialah bagaimana cara kita bisa bersahabat dengan alam dan menjaga agar kita bisa menikmatinya dengan orang2 yang kita cintai kelak, selain daripada itu tidak terlalu penting untuk kalian pamerkan ataupun kalian lakukan saat di gunung. Sedikit pesan dari saya sih, “ Jika kita tidak bisa membantu menjaga alam, setidaknya jangan kalian merusak alam ataupun memperparah kondisi yang sudah ada, lakukan saja yang kalian bisa lakukan, apapun itu, jika itu positif maka hasilnyapun akan positif. Udah itu aja. 🙂

Bonus ! Seseorang Yang Tidak Terlalu Tampan dan Terkesan Biasa-biasa saja Sedang Menjejakan Kakinya di Lembah Mandalawangi Dengan Background Gunung Salak

mandalawangi dengan background g salak

segitu aja kawan cerita dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, wabillahi taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. .

( 🙂 kok malah kaya abis ceramah ya 🙂 )

Santai aja Bro, jangan dibikin serius 🙂

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Pendakian Gunung Pangrango Dengan Segala Macam Problema”

      1. gunung gede terlalu di explore berlebih gan, karena dari segi trek pendakian lebih mudah daripada puncak pangrango 🙂 , semoga nasib gn pangrango ga sama ky gede yang penuh sampah. 🙂

        Like

      1. Saya udah hampir 20 X ke sana. Bersih karena pendaki ABG agak malas ke sana dibanding Gn.Gede. Terakhir 2005. 😦 Mata air yg di cerukan masih ada, Om?

        Like

      2. Lanjutkan sampai ke 100 kali om 🙂
        kemarin saya tidak melihat mata air di trek Pangrango, mungkin kelewat atau mungkin juga sudah mengering 🙂
        terimakasih kunjungannya 🙂

        Like

    1. ia benar, aliran air hangatnya membelah jalur pendakian 🙂

      kalo menurut saya lebih rumit ke pangrango, karena banyak ditemui pohon tumbang yang membentang di sepanjang jalur pendakian 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s